Showing posts with label sains. Show all posts
Showing posts with label sains. Show all posts

Wednesday, 4 March 2015

Perundingan Atom Iran Diuntungkan Pidato Netanyahu



Peringatan keras terkait tercapainya "deal" antara Amerika Serikat dengan Iran dalam sengketa atom Iran yang dilontarkan pidato PM Israel Benjamin Netanyahu di depan Kongres AS justru mendukung posisi jururunding atom Iran dalam perundingan terbaru di Swiss. Sejumlah harian internasional menyoroti tema ini dengan tajam dalam komentarnya.
Harian Belanda NRC Handelsblad yang terbit di Amsterdam berkomentar: Undangan kubu Partai Republik AS kepada PM Israel Netanyahu untuk berpidato di Kongres, menjadikan tema kampanye di Israel maupun di AS hanya berkisar pada dua tema: Iran dan keamanan Israel. Sikap ngotot Netanyahu justru mendorong para jururunding Iran dalam perdebatan sengketa atomnya untuk dapat mencapai kompromi. Secara moderat para jururunding atom Iran bisa menunjukan, bahwa yang bersikap menggelikan dalam sengketa atom itu adalah Israel bukan Iran. Dengan begitu, hal tersebut di dalam negeri dapat memudahkan para jururunding mengajukan alasan pembenaran bagi tercapainya sebuah "deal" dengan AS, sepahit apapun kompromi itu bagi Teheran.
Harian Austria Der Standard menulis komentar berjudul kesepakatan dengan Iran akan segera terwujud. Lebih lanjut harian yang terbit di Wina itu menulis, PM Israel Netanyahu mengambil risiko, makin memperburuk hubungan yang sudah tegang dengan Amerika Serikat dengan menyerang politik Iran dari presiden Obama.

 Niat Terselubung Iran?

Sejak bertahun-tahun memperluas know-how di bidang teknik nuklir. Badan energi atom internasional-IAEA meyakini, Iran hingga paling tidak hingga tahun 2010, berusaha membuat bom atom.

Ingin Bukan Berarti Bisa

Tapi juga diketahui, untuk memproduksi senjata atom yang berfungsi, termasuk sistem roket peluncurnya, merupakan tantangan teknologi sangat berat. Sederhananya, ada lima langkah yang harus ditempuh, dan tidak semua negara memiliki kemampuan itu

Langkah Pertama : Material

Untuk membuat bom atom diperlukan unsur Uranium yang diperkaya atau Plutonium dengan kemurnian tinggi. Dalam hal ini Iran memiliki cukup cadangan Uranium, misalnya dari pertambangan Sarghand, yang ditambang untuk reaktor nuklir sipil. Artinya syarat pertama sudah terpenuhi.

Langkah Kedua : Pengayaan Uranium

Uranium harus diperkaya menggunakan peralatan sentrifugal gas, agar lebih mudah meluruh. Untuk senjata atom, diperlukan pengayaan hingga 85 persen. Iran membeli sentrifugal canggih itu dari luar negeri, lewat perusahaan bayangan. November 2012 dilaporkan, Iran sudah mencapai tingkat pengayaan 20 persen.

Langkah Ketiga : Hulu Ledak Nuklir

Uranium yang diperkaya kadar tinggi saja tidak cukup, untuk membuat bom atom yang bisa meledak. Para teknisi dan insinyur juga harus mampu mencetak logam berat itu menjadi bentuk tententu, agar lewat impuls terarah, bisa dipicu reaksi berantai. Sejauh ini tidak diketahui, apakah Iran sudah menguasai teknik ini.

Langkah Keempat : Pemicu Ledakan

Teknik pemicu ledakan pada bom atom mirip sumbu peledak senjata konvensional. Iran sudah menguasai tekniknya. Selain itu, para ilmuwan Iran sudah membuat model algoritma dan melaksanakan ujicoba simulasi sifat-sifat hulu ledak.

Langkah Kelima : Sistem Roket Pengangkut

Iran juga sudah sukses mengujicoba roket yang bisa dimuati hulu ledak nuklir. Roket jarak menengah Shabab-3 sebuah varian dari roket Korea Utara Nodong-1, mampu mencapai sasaran sejarak 2000 kilometer.

Keinginan Memiliki Senjata Nuklir

Tanpa pengawasan, sebuah program atom untuk tujuan sipil nyaris tidak bisa dibedakan dari yang bertujuan militer. Pada dasarnya instalasi tekniknya sama. Pertanyaan apakah Iran mampu membuat bom atom, atau sudah direalisasikan, jawabannya sangat tergantung dari keinginan para penguasa di negara itu.


Israel memposisikan dirinya menjadi sebuah partai politik Amerika. Hal ini memicu kecaman dan hantaman keras dari kelompok pragmatis. Dan satu hal makin nyata, dengan itu, kesepakatan atom antara AS dengan Iran juga makin terlihat bisa terwujud.
Harian Denmark Politiken juga menulis komentar senada. Lebih baik tercapai kesepakatan yang tidak sepenuhnya sempurna ketimbang tidak ada deal apapun dengan Iran, tulis harian yang terbit di Kopenhagen itu dalam tajuknya. Pasalnya alternatif lain kelihatan jauh lebih buruk, yakni pecahnya perang baru di Timur Tengah yang sudah kacau balau. Dunia akan jadi lebih baik, jika dalam sengketa atom dengan Iran juga dilakukan aksi timbal balik, mencabut semua sanksi sebagai imbalan dari sebuah kesepakatan.
Harian Spanyol El Pais yang terbit di Madrid berkomentar : Netanyahu mungkin tidak salah, bahwa perundingan sengketa atom dengan Iran sangatlah penting. Tapi harus diingat, semua pihak tidak boleh melakukan kesalahan perhitungan dan strategi. Pasalnya stabilitas di Timur Tengah dan perimbangan kekuatan atom di dunia yang menjadi taruhannnya. Karena itulah, tema sengketa atom Iran tidak boleh hanya dijadikan tema politik dalam negeri sebuah negara saja.

via: dw.de/indonesia

Friday, 27 February 2015

TRANSPLANTASI KEPALA

TRANPLANTASI KEPALA

DIHARAPKAN BISA DILAKUKAN DI TAHUN 2017

SURABAYA - Dokter percaya bahwa mereka akan dapat melakukan transplantasi kepala dalam waktu dua tahun.
Adalah ahli bedah Italia yang mengatakan bahwa ia pikir bisa melaksanakan prosedur untuk memberi orang, tubuh yang sehat baru. Ini bisa membantu pasien dengan cedera saraf tulang belakang, penyakit otot, atau orang-orang yang tubuhnya penuh dengan kanker.

Dr Sergio Canavero mengatakan tekniknya sederhana, mereka hanya perlu disatukan, demikian menurut Daily Mail. Prosedur akan melibatkan dua pasien - seseorang yang mati otak tetapi tubuhnya sehat, sementara seorang lagi kepalanya sehat tetapi tubuhnya boleh dikata sudah rusak. Kepala mereka kemudian akan diambil dan kepala yang sehat akan dipasang pada tubuh yang sehat dengan saraf tulang belakang disatukan dengan lem. Setelah itu semua dijahit, pasien akan koma selama empat minggu agar kepala tidak lepas.


Dia akan mengumumkan rencana pada konferensi tahun ini dan, jika ia mendapat dukungan, operasi pertama akan berlangsung pada tahun 2017.
William Matthews, Ketua American Academy of Orthopaedic Surgeons Neurologis mengatakan: "Saya menganut konsep fusi tulang belakang dan saya pikir ada banyak daerah transplantasi kepala dapat digunakan tetapi saya tidak setuju dengan Canavero soal waktunya.
"Dia pikir siap, saya pikir itu masih jauh di masa depan."
Tapi Harry Goldsmith, seorang dokter California yang berhasil melakukan operasi sumsum tulang belakang yang memungkinkan seseorang untuk berjalan lagi, berkata: "Saya tidak percaya akan pernah terjadi."(metro.co.uk)

Original sourch: tribun surabaya